Rangkaian Kombinasi

Pemahaman rangkaian seri, rangkaian paralel sangat penting dalam memahami cara kerja rangkaian, karena itu saya berharap memang harus sabar untuk mengikuti topik topik yang di bahas dari Group Elektronika Dasar ini.

Setelah materi ini kita akan masuk materi pengenalan komponen capacitor.
Kembali ke masalah, dalam praktek akan juga banyak di temukan rangkaian yang tidak semata mata rangkaian seri, juga tidak semata mata rangkaian paralel, sebagai contoh pada gambar.

Pada gambar tampak bahwa:

  1. R1 dan R2 paralel, tetapi terhadap R3 kedua resistor tersebut adalah rangkaian seri. Sehingga secara keseluruhan tidak dapat di katakan hanya sebagai rangkaian seri atau hanya di katakan sebagai rangkaian paralel. Paling tepat menyebut rangkaian tersebut adalah rangkaian kombinasi.
  2. Tegangan sebesar 15 Volt di berikan pada rangkaian kombinasi tersebut, sehingga mengalirlah arus melalui titik A, kemudian “terbagi” ke titik B dan titik C (arus pada R1 dan arus pada R2). Selanjutnya arus tersebut “bertemu” kembali pada R3, dan terus ke titik D, selanjutnya ke titik negatif battery.
  3. Semua prinsip prinsip rangkaian seri dan rangkaian paralel berlaku pada rangkaian ini, sesuai dengan masing masing rangkaian nya (prinsip rangkaian seri berlaku pada rangkaian seri – nya, prinsip rangkaian paralel berlaku pada rangkaian paralel nya).

Untuk lebih mendalami nya maka mudah mudahan hitung hitungan berikut akan lebih menjelaskan kondisi yang sesungguh nya :

 

  1. R1 dan R2 paralel, maka dihitung RP (R paralel) menurut hitungan R paralel, karena nilai nya sama, maka dengan mudah kita hitung bahwa nilai total sama dengan setengahnya = 5 K ohm.
  2. RP seri dengan R3 sehingga RT (R total) nya = RP + R3 = 5K + 10 K = 15K ohm.
  3. Arus total yaitu arus yang mengalir pada titik A = arus yang mengalir pada titik D ==>> I = V / RT = 15 V / 15 K = 0,001 A = 1 mA.
  4. Dapat dihitung tegangan yang terjadi pada R1 = tegangan pada R2, karena R1 dan R2 paralel, maka bagi R3 dia dianggap 1 buah R senilai 5K (sebesar RP) ==>> V RP = I x RP = 0,001 x 5.000 = 5 Volt.
  5. Sehingga Arus pada masing masing R1 dan R2 sebesar tegangan pada RP di bagi R masing masing :
  • I pada R1 = VRP / R1 = 5 V / 10.000 = 0,0005 A = 5mA
  • I pada R2 = VRP / R2 = 5 V / 10.000 = 0,0005 A = 5mA
  • (karena besar R nya sama maka kuat arusnya juga sama.

6. Dapat dihitung pula tegangan yang terjadi pada R3 :

  Arus sebesar 1 mA = 0,001 A tadi melalui R3, maka;

  VR 3 = I x R3 = 0,001 A x 10.000 V = 10 Volt….


Kalau rangkaian ini di praktekkan dan dilakukan hasilnya akan sesuai antara teori dan praktek.

Kalau pun terdapat perbedaan, di sebabkan oleh beberapa kemungkinan :

  1. Nilai nilai R yang tidak tepat
  2. Tegangan sumber yang tidak pas.
  3. Alat alat ukur yang tidak terlalu presisi.

Tetapi sekalipun demikian hasil nya akan sangat mendekati terutama jika kita menggunakan :

  1. Resistor resistor dengan toleransi 1 %
  2. Tegangan sumber yang stabil sebesar 15 Volt
  3. Alat alat ukur yang digunakan yang berkualitas.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: